Kekeliruan Penggunaan Kata ‘Dirgahayu’ yang Jarang Diketahui Orang

Kekeliruan Penggunaan Kata ‘Dirgahayu’ yang Jarang Diketahui Orang

Tak lama lagi Indonesia akan merayakan hari kemerdekaannya yang ke-72. Banyak sepanduk, selogan, dan papan reklame yang yang mungkin berserakan dimana-mana menyebutkan ‘Dirgahayu Indonesia Ke-72.’ Padahal menurut pakar Bahasa Indonesia, penerapan istilah kata ‘Dirgahayu’ yang disandingkan dengan ‘Indonesia Ke-sekian’ adalah sebuah kekeliruan dan dianggap tidak tepat.

Semua kalangan lazimnya menganggap ‘Dirgahayu Indonesia Ke-72’ sebagai ‘Selamat ulang tahun ke 72 bagi Indonesia’. Padahal menurut kamus Bahasa Indonesia Makna dirgahayu adalah ‘berumur panjang’ atau bersifat berumur panjang. Kata ini sesuai bila ditujukan kepada organisasi atau negara, namun perlu digaris bawahi bahwa makna dari dirgahayu bukan berarti ‘selamat ulang tahun’. Jadi selogan dirgahayu Indonesia memiliki arti tersirat semoga Indonesia semakin panjang umur, berjaya, dan makmur selalu tanpa batas waktu. Apabila disandingkan dengan bilangan tertentu, ke-72 misalnya, maka istilah panjang umur yang diharapkan jauh kedepan hanya berbatas tahun ini saja. Bagaimana sesuatu dikatakan panjang umur jika untuk tahun ini saja? Atau contoh sederhana, kurang tepat jika kita katakan ‘sebiji telur’ sebab menurut bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah ‘sebutir telur’, begitulah kira-kira.

Jadi penggunaan dirgahayu yang tepat adalah tidak menyandingkannya dengan angka. Cukup ‘dirgahayu Indonesia’ saja, namun jika ingin mengungkapkan maksud haru ulang tahun Indonesia yang keberapa, maka kaidah yang benar adalah ‘Selamat Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-72’ atau disingkat ‘Selamat Hut RI Ke-72’.

Selain itu, kata dirgahayu juga tak layak ditujukan bagi kelahiran manusia. Seperti penjelasan diatas, dirgahayu dikhususkan untuk sebuah organisasi atau negara. Untuk lebih mudah mungkin kita bisa membedakan kapan pengucapan istilah ‘Anniversary’ dan ‘Birthday’ digunakan.

Meskipun demikian masih banyak ditemukan kekeliruan istilah dirgahayu diberbagai sepanduk, baner, papan iklan, bahkan sosial media sebagaimana yang dijelaskan diatas. Hal ini menunjukkan bahwa sesuatu yang salah jika ia sudah membudaya maka seolah itulah yang benar dan enak didengar. Sama seperti istilah ‘tolak ukur’ dan ‘tolok ukur’, kaidah bahasa yang benar adalah ‘tolok ukur’ namun kebanyakan orang lebih menganggap ‘tolak ukur’ sebagai kata yang benar dan lebih enak didengar. Semoga kita bisa sama-sama saling berbenah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *